MENYINGKAP SYUBHAT TERHADAP DAKWAH SALAFIYYAH “Apakah Syaikh Rabi’ Al-Madkholi dan Syaikh Bakr Abu Zaid Berselisih Dalam Masalah Manhaj?”

Diposting oleh Abu Najih on 21 Oktober 2011

MENYINGKAP SYUBHAT TERHADAP DAKWAH SALAFIYYAH


Oleh :
Abu Salma Muhammad al-Atsari

الحمد لله، والصلاة والسلام على خير خلق الله محمد بن عبد الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه. أما بعد:
Di tengah kesibukan yang padat ini, berpuluh-puluh email masuk ke inbox saya mempertanyakan tentang “surat pribadi” Syaikh Bakr Abu Zaid kepada Syaikh Rabi’ yang berisi pengingkaran Syaikh Bakr terhadap Syaikh Rabi’ tentang masalah pemikiran Sayid Quthb yang ditulis oleh Syaikh Rabi’ dalam bukunya yang nafi’ (bermanfaat) “Adhwa` Islamiyyah ‘ala Aqidati Sayyid Quthb wa Fikrihi”. Diantara beberapa email itu ada email dari beberapa kalangan yang mencela Syaikh Rabi’ bin Hadi dengan hujjah surat pribadi tersebut. Mereka mengklaim bahwa (1) Syaikh Bakr Abu Zaid mengkritik Syaikh Rabi’ bin Hadi secara keras dan berlepas diri dari karya beliau al-Adhwa`, (2) Syaikh Bakr memiliki manhaj yang berbeda dengan Syaikh Rabi’ dan (3) Syaikh Bakr membela dan memuji Sayyid Quthb.

Sebenarnya, pada du’at dan asatidzah-lah yang lebih berhak menjawab masalah ini, dan saya sendiri telah mendengar bahwa beberapa du’at dan asatidzah salafiyyah ada yang telah memberikan jawaban tentang masalah ini di dalam di dalam majelis ilmu dan ta’lim mereka hafizhahumullahu. Namun, sayangnya berita dan klarifikasi ini hanya berhenti sampai di majelis ilmu tersebut dan tidak begitu tersebar di dunia maya ini –Allohu Ta’ala a’lam-. Padahal fitnah dan syubhat ini bergulir dan menyebar begitu cepatnya di dunia maya, sehingga masalah ini menyebabkan beberapa syabab muslim terfitnah dan termakan oleh syubuhat ini.

Oleh karena itu, dalam upaya mengambil bagian saling menasehati di dalam kebajikan dan ketakwaan, serta bagian dari amar ma’ruf nahi munkar, saya berupaya sedikit menyempatkan diri dan meluangkan waktu untuk turut memberikan ‘nasihat’ dan klarifikasi sejauh apa yang saya ketahui. Namun apa yang saya utarakan ini hanyalah bersifat global dan sekelumit saja, adapun perincian secara mendetail, mungkin di lain waktu ada beberapa du’at atau thullabul ‘ilmi yang lebih mumpuni dari saya yang menjelaskannya secara lebih terperinci, sehingga syubuhat yang bercokol pada sebagian kalangan saudara kita kaum muslimin dapat sedikit tereliminir –atau minimal terminimalisir-.

Sejauh pengetahuan saya, terjemahan surat pribadi Syaikh Bakr Abu Zaid ini mulai dikenal luas oleh kaum muslimin Indonesia semenjak buku kontroversial yang ditulis oleh Saudara Farid Nu’man dalam bukunya “Al-Ikhwanul Muslimun : Anugerah Yang Terzhalimi” terbit –Wallohu a’lam bish showab-, kemudian mulai ramai diperbincangkan di forum-forum internet tanah air –walaupun di forum-forum diskusi berbahasa Arab dan Inggris telah lebih dulu menyebar-, lalu turut mengambil bagian Ustadz Abduh Zulfidar Akaha dalam bukunya “Siapa Teroris Siapa Khowarij” (selanjutnya : STSK, hal. 322, footnote no. 632) dan terakhir –bukan yang paling akhir- adalah saudara Abu Abdirrahman ath-Thalibi dalam bukunya “Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak 2 (selanjutnya : DSDB2 hal. 198)”.

Sesungguhnya hal semacam ini tidaklah mengherankan, karena diantara karakter ahlul ahwa’ itu adalah mengambil apa yang selaras dengan nawa nafsunya dan menelantarkan apa yang bertentang dengan hawa nafsunya. Sungguh indah sekali apa yang diutarakan oleh Ibnu Uyainah dalam al-Hilyah (VIII/339) :
ليس العاقل الذي يعرف الخير والشر ، إنما العاقل الذي إذا رأى الخير اتبعه ، وإذا رأى الشر اجتنبه
“Orang yang berakal itu bukan lah orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan, namun sesungguhkan orang yang berakal itu adalah apabila ia melihat kebaikan maka ia mengikutinya dan apabila ia mendapatkan keburukan ia menjauhinya.” [Dinukil melalui perantaraan Kasyfu Syubuhaat al-Ashriyah ‘anid Da’watil Ishlahiyah as-Salafiyyah, karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz ar-Rayyis, dalam islamicancient.com)

Sekarang mari kita memasuki pembahasan dan insya Alloh pembahasan ini agar lebih mudah difahami akan saya buat dalam bentuk tanya jawab –sebagaimana ushlub yang digunakan oleh Fadhilatusy Syaikh Sa’d bin ‘Abdirrahman al-Hushayyin (salah seorang murid senior Imam Ibnu Baz dan kepercayaan beliau rahimahullahu sebagai Musytatar ad-Diini (Penasehat Agama) bagi Yordania) dalam buku beliau yang bermanfaat Sayyid Quthb Rahimahullahu Baina Ro’yain-.

Apakah Al-‘Allamah Bakr Abu Zaid Dan Al-‘Allamah Robi’ bin Hadi Saling Bermusuhan?
Bagi yang membaca karya-karya kedua ‘Allamah ini niscaya akan mengetahui bahwa mereka adalah sahabat yang saling mencintai. Keduanya adalah dua orang alim yang sibuk dengan ilmu dan menyebarkannya. Kedua-duanya saling menasehati antara satu dengan lainnya di dalam perkara yang mereka perselisihkan, hal ini terbukti bahwa surat Syaikh Bakr yang ditujukan kepada Syaikh Rabi’ adalah surat pribadi dan rahasia, dimana Syaikh Bakr memberikan nasehat khusus secara pribadi kepada Syaikh Rabi’ atas ketidaksetujuannya terhadap beberapa hal yang ada pada karya Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkholi.

Apakah Syaikh Bakr Ridha Dengan Tersebarnya Surat Rahasia Beliau Kepada Syaikh Rabi’?
Untuk menjawab masalah ini, maka saya bawakan ucapan para ulama sejawat Syaikh Bakr dan Syaikh Rabi’, karena mereka hafizhahumullahu yang lebih layak untuk menjelaskannya.
Syaikh Sa’d al-Hushayyin hafizhahullahu dalam risalah Sayyid Quthb Baina Ro’yain (bab Muqoddimah) menjelaskan bahwa penyebaran risalah pribadi Syaikh Bakr adalah atas ketidaktahuan Syaikh Bakr dan ketika beliau mengetahuinya, beliau tidak meridhainya. Penyebaran risalah ini mulai disebarkan hampir 8 bulan semenjak tanggal penulisannya.

Di dalam al-Haddul Fashil, Syaikh Rabi’ menceritakan bahwa ketika surat pribadi Syaikh Bakr ini menyebar, Syaikh Rabi’ bin Hadi sendiri menghubungi beliau –Syaikh Bakr- dan menanyakan hal ini –siapa yang menyebarkan risalah ini ke kalangan umum?-, maka Syaikh Bakr menjawab :
هؤلاء يريدون أن يفرقوا بين الأحبة
“Mereka (adalah) orang-orang yang menghendaki untuk memecah belah antara orang yang saling mencintai” [Lihat Al-Haddul Fashil, muqoddimah].

Perhatikanlah ucapan Syaikh Bakr yang mengatakan “antara orang yang saling mencintai”! ini menunjukkan bahwa kedua ‘Allamah ini adalah orang yang saling mencintai, tidak sebagaimana yang dikira oleh kaum hizbiyyun harokiyyun, yang mengaduk di air keruh.

Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkholi ketika turut mengkonfirmasi dengan menanyakan hal ini kepada Syaikh Bakr, beliau menginformasikan bahwa Syaikh Bakr mencela orang yang menyebarkannya dan menjelaskan bahwa risalah beliau tersebut telah dicuri darinya dan disebarkan tanpa keridhaan beliau. [ibid.]
Lantas bagaimana dengan orang-orang yang menyebarkan risalah ini ke khayalak umum padahal penulis risalah tersebut tidak meridhai penyebarannya, apakah layak dikatakan bahwa mereka ini semua adalah pencuri?!! Ataukah pengkhianat?!! Ataukah perusak ukhuwah atau pengadu domba?!! (padahal mereka senantiasa menggembargemborkan ukhuwah dan ukhuwah)?!!

Apakah Syaikh Bakr berselisih dengan Syaikh Rabi’ dalam masalah manhaj?
Syaikh Sa’ad al-Hushayyin menjawab :
معاذ الله! بل هما متفقان كل الاتفاق على الالتزام بمنهاج الكتاب والسنة، كما فهمه سلف الأمة ، علماً وعملاً
“Ma’adzalloh! Bahkan keduanya bersepakat dengan sebenar-benarnya kesepakatan di atas iltizam dengan manhaj al-Kitab dan as-Sunnah sebagaimana yang difahami oleh Salaful Ummah, baik secara ilmu maupun amal…” [Sayyid Quthb Baina Ro’yain].

Beliau hafizhahullahu lalu menjelaskan poin-poin perinciannya yang terangkum dalam hal sebagai berikut :
  1. Keduanya sama-sama belajar ilmu syar’i sampai mendapatkan gelar tinggi dalam dirosah al-Ashriyah (studi kontemporer) yaitu gelar doktor, dan keduanya mencapai ufuk ilmu yang luas. Walau dalam hal ini Syaikh Bakr dikenal di kalangan umat Islam Arab akan penentangannya terhadap istilah gelar doktor dan menganggapnya sebagai bagian dari taqlid terhadap budaya ‘ajami yang bid’ah sebagaimana beliau uraikan dalam buku beliau yang berjudul Taghrib al-Alqob al-‘Ilmiyyah. Yang benar bahwa kedua muhaqqiqin (peneliti) ini, yaitu Syaikh Bakr dan Syaikh Rabi’ hafizhahumallohu qudwatan sholihatan di dalam ciri khas keilmuan dan amal, lebih besar daripada gelar-gelar studi kontemprer yang ada saat ini.
  2. Alloh Azza wa Jalla memberikan taufiq kepada mereka berdua sebagai petugas pengemban ilmu dan amal syar’i yang tinggi. Syaikh Bakr bertugas sebagai anggota Kibar al-‘Ulama` sedangkan Syaikh Rabi’ sebagai Dekan Fakultas Hadits di Universitas Islam Madinah.
  3. Keduanya aktif menulis sejumlah karya yang menyokong dan menyebarkan agama yang haq dan mendakwahkan kepadanya di atas bashiroh.
  4. Alloh Azza wa Jalla memberikan ciri khas kepada mereka berdua dengan iltizam kepada manhaj nubuwwah di dalam agama dan dakwah, menyebarkan tauhidullah dengan ubudiyah dan ittiba’us sunnah serta memerangi syirik kepada Alloh di dalam peribadatan dan segala bentuk kebid’ahan serta tafaruq di dalam agama.
  5. Keduanya sama-sama mengingkari manhaj-manhaj produk manusia dan akal fikiran serta segala bentuk intima’ (kecondongan) kepada jama’ah-jama’ah, partai-partai dan kelompok-kelompok yang diperdaya oleh Syaithan untuk memecah belah persatuan umat di atas tauhid dan sunnah. Keduanya mengerahkan upaya yang besar dan berbarakah di dalam mentahdzir dari penyimpangan ini dan mengembalikan umat islam –dengan pertolongan Alloh- kepada manhaj sunnah yang ma’shum (terpelihara).
 Apakah Mereka Berdua Berselisih di dalam Wasilah (Sarana) ataukah Uslub (Cara)
Syaikh Sa’ad al-Hushayyin menjawab : Keduanya tidak berselisih di dalam wasilah yang telah Alloh pilihkan bagi para nabi dan rasul-Nya di dalam dakwah kepada jalan-Nya di atas bashiroh berupa petunjuk Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Namun mereka berdua berselisih di dalam uslub dan adah (kebiasaan) yang tidaklah mengapa ada perselisihan di dalamnya, yaitu :
  1. Syaikh Bakr lebih cenderung inqitho’ (terputus) di dalam pembahasan ilmu, jauh dari berhubungan langsung dengan manusia. Hampir keseluruhan waktu beliau habis di maktab (kantor) dan maktabah (perpustakaan) beliau. Oleh karena itulah mayoritas karya tulisnya lebih banyak berupa pembahasan maudhu’i (pertema) dan jauh dari naqd al-Mu’ayyan (kritik secara spesifik ke orang tertentu). Kritik beliau secara spesifik –sejauh pengetahuan saya (Syaikh Sa’ad) tidaklah keluar dari beliau melainkan hanya kepada Ustadz ‘Abdul Fatah Abu Ghuddah –pimpinan Ikhwanul Muslimin di Suriah- tajawazallohu ‘anna wa ‘anhu dan Ustadz Muhammad ‘Ali ash-Shobuni –semoga Alloh menutup usia kita dan beliau dengan mengikuti sunnah dan berlepas dari bid’ah-.
  2. Adapun Syaikh Rabi’, maka waktu beliau lebih banyak digunakan untuk liqo’ (mengadakan pertemuan) dengan thullabul ‘ilmi dan para du’at. Rumah beliau senantiasa terbuka bagi siapa saja yang ingin menggali ilmu belajar dari beliau maupun lawan yang ingin berdiskusi dengan beliau.
  3. Dari dua uslub dan kebiasaan inilah muncul perselisihan antara keduanya tentang masalah pemikiran Sayyid Quthb rahimahullahu. [Masalah ini dibahas panjang oleh Syaikh Sa’ad dan uraian beliau akan diturunkan dalam pembahasan yang lain insya Alloh]
Bukankah Bantahan Syaikh Bakr Kepada Syaikh Rabi’ Menunjukkan Bahwa Syaikh Bakr Memuji Sayyid Quthb?
Tidaklah demikian. Karena tidaklah surat Syaikh Bakr ditulis dimaksudkan untuk membela segala kesalahan Sayyid Quthb.

Apa yang diuraikan oleh Syaikh ’Abdul ’Aziz ar-Rayyis dalam Kasyfu Syubuhaat al-Ashriyyah ’anid Da’watil Ishlahiyyah as-Salafiyyah (hal 58, softcopy dari islamicancient.com) telah mencukupi untuk menjelaskan hal ini. Beliau hafizhahullahu berkata :
  1. Bahwasanya Syaikh Bakr Abu Zaid tidak pernah menyebut di dalam surat beliau bahwa Sayyid Quthb adalah orang yang beraqidah dan bermanhaj salafi. Bahwasanya tujuan penulisan surat beliau itu adalah untuk menunjukkan ketidaksepakatan beliau atas uslub Syaikh Rabi’ dan beberapa kritikan Syaikh Rabi’ terhadap Sayyid Quthb, bukan artinya Syaikh Bakr menolak semua kritikan Syaikh Rabi’ kepada Sayyid Quthb.
  2. Sekiranya dianggap bahwa Syaikh Bakr menolak kesalahan (yang disandarkan kepada) Sayyid Quthb, maka sesungguhnya ulama-ulama lainnya yang lebih ’alim dari beliau banyak yang menyelisihi beliau. Cukuplah bagi mereka kritikan Samahatusy Syaikh ’Abdul ’Aziz bin Baz dan Muhaddits Kontemporer Al-Albani rahimahumallahu.
  3. Sekiranya dianggap bahwa Syaikh Bakr menolak kesalahan aqidah yang membahayakan pada Sayyid Quthb (seperti wahdatul wujud dan semisalnya, pent.), maka sesungguhnya yang pertama kali akan membantah beliau adalah buku-buku Sayyid Quthb sendiri, dimana Sayyid mencela para sahabat dan keburukan-keburukan lainnya yang banyak yang tersebar luas yang tidak mungkin bagi seorangpun mengingkarinya. (dikarenakan banyaknya bukti, pent.)
Saya berkata* :
[* Harap difahami bahwa apabila saya mengatakan ”Saya Berkata” bukanlah artinya saya menempatkan diri sebagai seorang ulama atau orang yang alim mumpuni, namun saya melakukannya hanya sekedar untuk memisahkan antara ucapan saya dengan selainnya].

Syaikh Bakr Abu Zaid memiliki karya-karya ilmiah yang sangat bertentangan dengan aqidah dan manhaj Sayyid Quthb, termasuk manhaj kaum harokiyyin hizbiyyin yang menjadi poros penyebaran risalah pribadi ini hanya untuk membela hizbiyyah mereka.

Syaikh Bakr Abu Zaid mencela dan mentahdzir dari jama’ah-jama’ah Islamiyyah yang menyeleweng di dalam buku beliau yang anggun Hukmul Intima` ilal Firoqi wal Jama’aat wal Ahzaab al-Islamiyyah, yang mana kaum hizbiyyun alergi dengan buku ini dan tidak mau merujuk kepadanya. Syaikh Bakr juga menulis buku yang sangat bernilai diantaranya adalah :
  1. Ar-Roddu ’alal Mukhoolif min Ushuulil Islaam wa Marootibil Jihaad
  2. Tahriifun Nushuush min Adillati Ahlil Ahwa’
  3. Baro’atu Ahlus Sunnah minal Waqii’ah fi Ulama`il Ummah
  4. Hajrul Mubtadi’
Dan lain sebagainya.
Bahkan di dalam buku Kutubu Hadzdzaro minhal al-’Ulamaa` karya Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman, Syaikh Bakr memberikan taqdim sebagai berikut :

”Sesungguhnya penulisan di dalam masalah buku-buku yang para ulama mentahdzirnya, adalah suatu bab besar yang merupakan satu pintu dari pintu-pintu di dalam memberikan nasehat kepada ummat dan merupakan perisai dari perkara-perkara yang mengaburkan bagi agama, ibadah, akhlak dan tauhidnya kepada Rabbnya…” [Kutubu Hadzdzaro minhal Ulama`, Syaikh Abu ’Ubaidah Masyhur Hasan Alu Salman, Jilid 1, Daar as-Shomi’i, cet. 1, 1415 H./1995 M., hal. 3]

Oleh karena itu, seharusnya bagi kaum hizbiyyun itu untuk membaca dan menerima karya-karya Syaikh Bakr lainnya yang telah tersebar luas, bukannya malah mengambil apa yang sesuai dengan hasrat mereka namun meninggalkan apa yang tidak selaras dengan nafsu mereka.

Apakah Syaikh Rabi’ Orang Yang Pertama Mengkritik Sayyid Quthb?
Tidak benar. Sebelum Syaikh Rabi’ ada beberapa ulama dan masyaikh yang mengkritik Sayyid Quthb. Diantaranya adalah Syaikh Mahmud Muhammad Syakir yang membantah celaan Sayyid terhadap Shahabat Utsman dan Mu’waiyah radhiyallahu ’anhuma.

Syaikh ’Abdul Lathif as-Subki, ketua lajnah fatwa al-Azhar di dalam Majalah ”ats-Tsaqofah al-Islamiyyah” yang diterbitkan oleh Majelis Tinggi Urusan Keislaman (Majlis al-A’la lisysyu`unil Islamiyyah) no. VIII, tahun XXIII, 23 Sya’ban 1385 (24 November 1965) menurunkan bantahan kepada Sayyid Quthb dan bukunya Ma’alimu fith Thariq. [Dari website resmi Syaikh Muhammad al-Hamud an-Najdi, dalam artikel berjudul Al-Azhar yaruddu ’ala Fitnati Sayyid Quthb].

Demikian pula dengan Syaikh ’Abdullah ad-Duwaisy rahimahullahu yang mengkritik kitab Fi Zhilalil Qur’an dalam buku beliau yang bernilai Al-Mauriduz Zilaal fit Tanbiih ’ala Akhtho’iz Zilaal. Demikian pula Syaikh al-Albani dalam beberapa muhadhoroh Silsilah al-Huwa wan Nur yang mengkritik Sayyid Quthb dalam beberapa hal.
Bahkan para pembesar Harokiy sendiri mengkritik Sayyid Quthb, seperti DR. Yusuf al-Qordhowi, Abul Hasan an-Nadwi, ’Ali Jarisyah dan Farid ’Abdul Khaliq dalam masalah takfir. Mantan Mursyid’ Am Hasan Hudhaibi berserta beberapa tim Ikhwanul Muslimin turut membantah Sayyid Quthb di dalam kitab Du’aat La Qudhoot.

Setelah Syaikh Rabi’ ada beberapa ulama turut meneliti dan mengkritisi pemikiran Sayyid Quthb, semisal Syaikh Muhammad al-Hamud an-Najdi dalam kitab beliau al-Qoul al-Mukhtashor al-Mubiin fi Manahijil Mufassirin mengkritik Sayyid dalam masalah ta’wilush Shifat dan indikasi wahdatul wujud dalam penafsiran Sayyid terhadap surat al-Ikhlash.

Diantaranya pula ada kitab berjudul Baro`atu Ulama`il Ummah min Tazkiyati Ahlil Bid’ah karya Syaikh Isham bin ’Abdillah as-Sinani dan dimuroja’ah oleh al-’Allamah Shalih Fauzan dan dibaca kembali oleh Faqihuz Zaman al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin. Di dalam risalah ini termuat kritikan para masyaikh salafiyyin terhadap Sayyid Quthb, seperti : Syaikh Ibnu Baz, al-Albani, al-’Utsaimin, al-Fauzan, Shalih al-Luhaidan, ’Abdullah al-Ghudayyan, ’Abdul Muhsin al-’Abbad, Hammad al-Anshori, Shalih Alu Syaikh, dan lainnya.

Sebagai informasi pula, bahwa ketika Syaikh Rabi’ menulis buku al-Adhwa`, beliau tidak hanya mengirimkan naskah tersebut kepada Syaikh Bakr untuk diberikan koreksi dan catatan, namun beliau juga mengirimkannya kepada beberapa masyaikh seperti : Syaikh Ibnu Baz, Syaikh ’Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, Syaikh al-Albani, Syaikh ’Abdul Muhsin al-’Abbad, Syaikh Muhammad Aman al-Jami, Syaikh Zaid bin Muhammad al-Madkholi dan Syaikh Ahmad Yahya an-Najmi hafizhahumullahu hayyahum wa rahimallahu mayyitahum. [Lihat al-Haddul Fashil, op.cit.] Dari kesemua masyaikh tersebut hanya Syaikh Bakr saja yang menunjukkan penolakan terhadap beberapa masalah. Allohu a’lam.

Bagaimana Dengan Nukilan Abduh ZA Yang Menyatakan Bahwa Syaikh ’Abdul ’Aziz Alu Syaikh Memuji ”Fi Zhilalil Qur’an”?
Di dalam STSK (hal. 326) dan dinukil oleh ath-Thalibi dalam DSDB2 (hal. 198) menukilkan ucapan Syaikh al-’Allamah ’Abdul ’Aziz Alu Syaikh yang memuji tafsir ”Fi Zhilaalil Qur’an”. Ath-Thalibi hanya memetikkan nukilan tersebut sbb : ”Kalau saja mereka mau menyelaminya lebih dalam, dan mengulangi bacaannya, sungguh akan jelas bagi mereka kesalahan mereka dan kebenaran Sayyid Quthb.”
Di dalam forum website albaidha’ yang dipimpin oleh Syaikh ‘Ali Ridha, terdapat penukilan bahwa beberapa masyaikh telah memberikan nasehat dan kritikan terhadap pandangan mufti al-’Allamah Alu Syaikh ini. Di antaranya adalah Syaikh Sa’ad al-Hushayyin yang mengirimkan surat teguran resmi langsung kepada sang mufti hafizahullahu. Termasuk pula Syaikh ’Ali Hasan al-Halabi yang memuat pembahasan khusus di dalam website beliau tentang masalah ini.
Di dalam kaset Syarh Masa`ilil Jahiliyah, kaset ke-7, side B, Syaikh Alu Syaikh juga pernah ditanya tentang tafsir Fi Zhilalil Qur’an, maka beliau menjawab :
”Adapun Tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb merupakan salah satu tafsir yang mengandung banyak sekali tema-tema yang padanya ada penjelasan bagi beberapa ayat, penjelasan yang baik. Yaitu, di dalamnya terdapat bentuk penjelasan dengan gaya sastera dan bahasa yang indah hingga membuat pembacanya dapat memahami maksud ayat tersebut secara umum yang kemudian dikaitkan dengan realita yang ada…”
Beliau lalu mengatakan :
”Demikian pula dalam buku itu terdapat banyak sekali bid’ah dan kesesatan. Buku Sayyid Quthb ”Fi Zhilalil Qur’an” ini mengandung lebih banyak penyimpangan ketimbang bukunya (Muhammad Ali) ash-Shobuni (yang menulis Shofwatut Tafsir, yang diterbitkan Pustaka al-Kautsar, pent.), dan diantara penyimpangan tersebut adalah :”
[Di sini akan saya ringkas karena panjangnya penjelasan beliau, bagi yang ingin mengetahui lebih lengkap ucapan Syaikh Alu Syaikh ini bisa merujuk ke dalam kitab Fatawa al-’Ulama` al-Akabir fil Irhaab wat Tadmiir wa Dhowabithul Jihaad wat Takfiir oleh Abul Asybal al-Mishri]
  1. Memiliki kecondongan kepada kelompok Shufiyah yang berpemahaman Wahdatul Wujud, walaupun tidak secara manthuq (jelas) namun dapat difahami dari perkataannya sebagai hal tersebut.
  2. Menyatakan bahwa pembahasan bertambah dan berkurangnya iman adalah termasuk pembahasan ilmu kalam yang tidak perlu dibahas.
  3. Menafsirkan kata ”Robb” dengan ”Ilah” dan ”Ilah” dengan ”Rob”, padahal makna keduanya memiliki perbedaan yang nyata.
  4. Tidak memahami masalah ketaatan kepada kaum musyrikin dan memahaminya secara zhahir dan berlebihan.
  5. Melakukan Takfir dalam masalah ketaatan secara tidak benar.
  6. Buku Fi Zhilalil Qur’an tidak memiliki perhatian yang cukup kepada manhaj yang ditetapkan ahlus sunnah.
  7. Membuat taqsim muhdats dengan bersintinbat dari surat Yusuf akan adanya dua fikih, yaitu fikih teori dan fikih waqi’.
Lalu Syaikh menutup ucapannya dengan nasehat yang bagus sebagai berikut :
”Orang ini (Sayyid Quthb) memiliki pendapat-pendapat yang bervariasi dan saling bertentangan apabila diteliti. Oleh karena itu bagi para penuntut ilmu yang antusias di dalam menuntut ilmu agar menelaah buku-buku as-Salaf ash-Sholih, menelaah buku-buku yang mengandung ilmu berfaidah yang bersih dan suci. Adapun kitab-kitab yang mengandung kebatilan, penyimpangan dan mengandung pendapat-pendapat subyektif yang tidak memiliki dalil yang terang dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, dan tidak selaras dengan pemahaman ulama ahlus sunnah wal jama’ah, maka dikhawatirkan para thullabul ilmi yang membaca buku-buku semacam itu akan tergelincir dan tertanam di dalam hatinya syubhat, padahal seseorang yang antusias dan bersemangat di dalam menjaga agamanya, sepatutnya ia tidak menjatuhkan dan membawa diri dan hatinya ke dalam syubhat.”
Saya berkata :
Sekiranya apabila Syaikh Alu Syaikh dianggap telah memuji ”Fi Zhilalil Qur’an”, maka tetap hal ini bukan artinya beliau memuji Sayyid Quthb dan membela kesesatan dan penyimpangan Sayyid rahimahullahu, dengan alasan :
  1. Memuji suatu karya seorang tokoh yang memiliki kesalahan bukan artinya otomatis memuji tokoh itu. Karena seringkali pujian itu jatuh kepada perkara yang tampak sebagai suatu kebaikan sedangkan di tempat atau karya lainnya kesalahan-kesalahan itu bertebaran.
  2. Memuji kebenaran yang ada pada seseorang bukan artinya otomatis turut memuji semua yang ada pada orang itu berupa kesalahan-kesalahan, penyimpangan dan kesesatan.
Bagaimana Sikap Kita Di Dalam Perselisihan Kedua ’Allamah ini?
Sepatutnya bagi para penuntut ilmu pemula supaya mereka menyibukkan diri dengan ilmu dan tidak menyibukkan diri dengan perselisihan yang terjadi. Adapun kepada para penuntut ilmu yang telah tercemari oleh berita dan syubuhat yang dilontarkan oleh kaum hizbiyun yang ’mengaduk di air keruh’ untuk mencemarkan dakwah salafiyyah dan tokoh-tokohnya, maka hendaklah mereka bersikap tenang dan tidak gegabah, berupaya melalukan verfikasi dan cek-ricek, bertanya kepada ahli-ilmu dan melakukan tahqiq atas kedua hujjah kedua ulama yang berbeda pendapat ini.

Janganlah kita menjadi orang yang fanatik terhadap individu-individu tertentu karena manhaj salaf tidaklah dibangun di atas fanatisme terhadap individu-individu tertentu. Dengan demikian kita tidak membela Syaikh Bakr dikarenakan beliau adalah anggota Ha`iah Kibaril Ulama dan kita tidak membela Syaikh Rabi’ dikarenakan beliau adalah pembawa bendera Jarh wa Ta’dil di zaman ini. Tidak!!! Kita membela yang haq dari mereka dan kita meninggalkan yang salah dari mereka tanpa mencela salah satu dari keduanya.
Kita tidak mencela Syaikh Bakr Abu Zaid sebagaimana yang dilakukan kaum ghulat haddadiy Falihiy dan tidak pula mencela Syaikh Rabi’ sebagaimana yang dilakukan kaum ghulat hizbiy takfiriy. Keduanya adalah kedua alim salafiy yang tidak ma’shum bisa salah dan bisa benar. Kita ambil yang selaras dengan haq dan kita tinggalkan yang menyelisihi kebenaran.

Sungguh indah do’a penutup yang diucapan Syaikh Sa’ad al-Hushayyin di dalam risalahnya yang berfaidah –Sayyid Quthb baina Ro’yain-, beliau berkata :
وجزى الله الشيخ ربيع بن هادي المدخلي خير جزائه لمحاولته ردّ شباب الأمة إلى شرع الله، وتحذيرهم من فكر التكفير والانعزال والخروج عن الجماعة والولاية، وجزى الله الشيخ بكر بن عبدالله أبو زيد خير جزائه لمحاولته تصحيح أسلوب نقد المسلم للمسلم
”Semoga Alloh mengganjar Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkholi dengan balasan yang baik atas upaya beliau di dalam mengembalikan para pemuda umat kepada syariat Alloh dan mentahdzir dari pemikiran takfir, pemutusan dan keluar dari al-jama’ah dan al-wilayah, dan semoga Alloh membalas Syaikh Bakr bin ’Abdillah Abu Zaid dengan balasan yang baik atas upaya beliau di dalam meluruskan uslub (cara) seorang muslim mengkritik muslim lainnya.”

Posting Komentar