Wajib Mengikuti madzhab salaf, Tidak boleh menyelisihinya

Diposting oleh Abu Najih on 21 September 2011

Wajib Mengikuti madzhab salaf

Para ulama ahlussunnah wal jamaah, apapun madzhab fiqih yang mereka tempuh dalam jenjang berusaha mempelajari dan memahami ahkam syariat, tetap mengikuti madzhab salaf. Begitu juga dengan para ulama madzhab syafiiyah yang memang berada di atas manhaj ahlussunnah wal jamaah. Beda dengan orang-orang yang mengaku bermadzhab syafii, tetapi mereka beragama dengan berlandaskan ilmu kalam mantiq dan pemahaman tasawwuf sufi. Banyak ucapan para ulama syafiiyah yang mengajak untuk mengikuti madzhab salaf dan mewajibkannya. Demikian ini akan kami bawakan perkataan-perkataan para ulama syafiiyah tentang wajibnya mengikuti madzhab salaf (salafiy).

Perkataan para ulama syafiiyah
1. Al-Imam Abu Ismail Utsman Ash-Shobuni Asy-Syafii rahimahullah (- 449 H) berkata dalam awal risalahnya:
سألني إخواني في الدين أن أجمع لهم فصولا في أصول الدين التي استمسك بها الذين مضوا من أئمة الدين وعلماء المسلمين والسلف الصالحين، وهدوا ودعوا الناس إليها في كل حين، ونهوا عما يضادها وينافيها جملة المؤمنين المصدقين المتقين، ووالوا في اتباعها وعادوا فيها، وبدعوا وكفروا من اعتقد غيرها، وأحرزوا لأنفسهم ولمن دعوهم إليها بركتها وخيرها، وأفضوا إلى ما قدموه من ثواب اعتقادهم لها، واستمساكهم بها، وإرشاد العباد إليها، وحملهم إياهم عليها،
“Aku diminta oleh saudara-saudaraku seagama untuk mengumpulkan bagi mereka fasal-fasal tentang ushuluddin (keyakinan, aqidah, i’tiqod) yang dipegang teguh oleh para imam agama dan ulama kaum muslimin serta para salaf yang shalih, dan mereka memberi petunjuk dan mengajak orang-orang kepadanya dalam semua kesempatan, dan melarang dari yang berlawanan dan bertentangan dengannya, sekumpulan kaum mukminin yang membenarkan dan bertaqwa. Mereka loyal dalam mengikutinya dan memusuhi (orang yang menyelisihinya) dalam masalah itu. Mereka membid’ahkan dan mengkufurkan orang yang meyakini selainnya. Mereka memelihara berkah dan kebaikannya bagi diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka ajak kepada ushuluddin ini. Mereka telah mencapai pahala keyakinan mereka, sikap mereka berpegang teguh dengannya, memeri petunjuk manusia kepadanya dan kesabaran mereka terhadap balasan manusia di atas aqidah itu.”

Kesimpulan:
a.) Para salaf shalih dan para ulama kaum muslimin dulu mengajak manusia kepada aqidah salaf dalam setiap waktu dan melarang dari yang menyelisihinya.
b.) Mereka –para ulama dan salaf shalih- loyal kepada orang yang mengikuti aqidah salaf dan memusuhi orang yang sebaliknya.
c.) Mereka –para ulama dan salaf shalih- membid’ahkan dan mengkufurkan orang yang meyakini selain aqidah salaf.
d.) Dulu, kaum muslimin sangat perhatian dengan aqidah salaf, sehingga mereka bertanya kepada Imam Abu Utsman Ash-Shabuni tentang aqidah salaf untuk mereka pegang.

2. Al-Imam Al-Mawardi Asy-Syafii rahimahullah (-450 H) di dalam Al-Hawi Fi Fiqhi Asy-Syafii (2/523): Beliau membawakan pendapat Imam Asy-Syafii tentang doa istisqa’ (minta hujan) yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian Imam Asy-Syafii berkata:
وَأُحِبُّ أَنْ يَفْعَلَ هَذَا كُلَّهُ وَلَا وَقْتَ فِي الدُّعَاءِ لَا يُجَاوِزَ .
“Aku suka hendaknya dia melakukan semua ini dan tidak ada waktu dalam doa yang dia tidak boleh melampauinya.”
Kemudian Al-Imam Al-Mawardi memberikan komentar:
وَهَذَا كَمَا قَالَ : وَذَلِكَ هُوَ الْمُخْتَارُ ؛ لِأَنَّهُ مَرْوِيٌّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْقُولٌ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ .
“Dan ini seperti yang beliau katakan. Itulah pendapat yang dipilih, karena itu yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan dinukilkan dari salaf shalih radhiyallahu ‘anhum.”

Kesimpulan:
a.) Dalam berpendapat, Imam Syafii berijtihad dengan dalil yang sampai kepada beliau dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidak berbicara dalam masalah agama tanpa dalil yang dijadikan landasan pendapat.
b.) Pendapat yang ada dalilnya dan mencocoki pendapat salaf itulah yang dipilih. Di sini ada isyarat bahwa pendapat salaf itulah yang diikuti dan dijadikan rujukan.

3. Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah (384-458 H) dalam menetapkan sifat Allah bahwa dia mengatakan:
"لا يجوز وصفه - سبحانه - إلاّ بما دل عليه كتاب الله تعالى أو سنة رسوله صلى الله عليه وسلم ، أو أجمع عليه سلف هذه الأمة"
“Tidak boleh mensifati Allah subhanahu wa ta’ala kecuali dengan yang ditunjukkan oleh Kitabullah atau sunnah rasul-Nya atau ijma’ salaf ummat ini.”
Kesimpulan:
a.) Dalam masalah asma wa sifat Allah, kita juga berhujjah dengan Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ salaf. Karena madzhab salaf itulah yang seharusnya diikuti.
b.) Beriman dengan Asma’ wa sifat Allah termasuk beriman dari rukun iman pertama, yaitu iman kepada Allah.
c.) Salaf adalah panutan dalam beragama.
d.) Imam Al-Baihaqi tidak membolehkan seseorang untuk beraqidah selain yang dipegangi salaf.

3. Perkataan Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah (384-458 H) sebagaimana dinukil Imam An-Nawawi dalam Khulashoh Al-Ahkam (1/462-463):
وَرَوَى الْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَادِهِ ، عَن ابْن الْمُبَارك أَنه سُئل عَن مسح الْوَجْه إِذا دَعَا الْإِنْسَان ؟ قَالَ : " لم أجد لَهُ ثبتاً ، وَلم يكن يرفع يَدَيْهِ " . قَالَ الْبَيْهَقِيّ : " لست أحفظ فِي مسح الْوَجْه هُنَا عَن أحد من السّلف شَيْئا . قَالَ : وَاخْتلفُوا فِي ذَلِك فِي الدُّعَاء خَارج الصَّلَاة ، قَالَ : فَأَما فِي الصَّلَاة فَهُوَ عمل لم يثبت فِيهِ خبر ، وَلَا أثر ، وَلَا قِيَاس فَلَا يُفعل ، ويقتصر عَلَى مَا فعله السّلف من رفع الْيَدَيْنِ دون الْمسْح " هَذَا كَلَام الْبَيْهَقِيّ .
وَأما حَدِيث عمر رَضِيَ اللَّهُ عَنْه : " أَن النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كَانَ إِذا رفع يَدَيْهِ فِي الدُّعَاء لم يحطهما حَتَّى يمسح بهما وَجهه " فَرَوَاهُ التِّرْمِذِيّ . وَقَالَ : " حَدِيث غَرِيب ، انْفَرد بِهِ حَمَّاد بن عِيسَى ، وَحَمَّاد هَذَا ضَعِيف " فَهُوَ حَدِيث ضَعِيف .
[Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnul Mubarok, bahwa dia ditanya tentang mengusap wajah ketika seseorang berdoa. Maka dia menjawab: “Aku tidak mendapati hal itu tsabit, dan hendaknya dia tidak mengangkat kedua tangannya.” Al-Baihaqi berkata: “Aku tidak menghapal sesuatupun di sini dari salah seorang salaf tentang mengusap wajah... Para ulama telah berbeda pendapat tentang hal itu dalam doa di luar sholat ... Adapun di sholat, maka itu adalah amalan yang tidak tsabit sebuah hadits tentangnya, tidak pula sebuah atsar (riwayat shohabat dan setelahnya) dan tidak pula qiyas, maka tidak bisa dilakukan. Dan hendaknya mencukupkan diri sebagaimana yang dilakukan oleh salaf berupa mengangkat kedua tangan tanpa mengusap wajah.” Demikian ucapan Al-Baihaqi.
Al-Imam An-Nawawi melanjutkan: Adapun hadits Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dulu jika mengangkat kedua tangannya dalam dia, beliau tidak menaruhnya sampai beliau mengusap wajahnya dengan keduanya. Maka ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, dia berkata: “Hadits ghorib, Hammad bin Isa meriwayatkan sendirian dan dia dho’if.” Maka hadits ini dho’if.]

Kesimpulan:
a.) Mengikuti madzhab salaf dalam masalah ibadah, seperti ibadah sholat.
b.) Tidak berpendapat dengan sesuatu amalan yang tidak ada dalilnya, baik dari al-qur’an atau hadits dan ijma’ salaf.
c.) hadits tentang mengusap wajah setelah berdoa dengan kedua tangan adalah dho’if. Sehingga hal itu tidak diamalkan.
d.) Imam Al-Baihaqi dan Imam An-Nawawi ketika berpendapat berusaha mengikuti dalil dan madzhab salaf. Bagaimana dengan kaum muslimin sekarang yang mengaku bermadzhab syafii? Banyak orang yang tidak mengenal madzahab salaf yang sesungguhnya bahkan malah mencela madzhab salaf. Mereka menggolongkan para teroris sebagai seorang salaf. Ini adalah sebuah kejahatan kepada para salaf.

4. Imam Al-Haramain Abul Ma’ali rahimahullah (419-478 H) sebagaimana dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (13/349-350):
"ركبت البحر الأعظم، وغصت في كل شيء نهى عنه أهل العلم في طلب الحق فرارا من التقليد والآن فقد رجعت واعتقدت مذهب السلف "
“Aku telah mengarungi samudra yang terbesar, dan aku telah menyelami segala sesuatu yang dilarang oleh para ulama, untuk mencari kebenaran, lari dari taqlid. Sekarang aku telah kembali dan meyakini madzhab salaf.”
Kesimpulan:
- Tempat kembali dalam memahami agama yang benar adalah dengan mengikuti madzhab salaf.

5. Imam An-Nawawi rahimahullah (631-676 H) dalam Muqaddimah Al-Majmu 1/27 ketika menceritakan tentang Kitab beliau Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab mengatakan:
وَاعْلَمْ أَنَّ مَعْرِفَةَ مَذَاهِبِ السَّلَفِ بِأَدِلَّتِهَا مِنْ أَهَمِّ مَا يُحْتَاجُ إلَيْهِ ..... وَبِذِكْرِ مَذَاهِبِهِمْ بِأَدِلَّتِهَا يَعْرِفُ الْمُتَمَكِّنُ الْمَذَاهِبَ عَلَى وَجْهِهَا، وَالرَّاجِحَ مِنْ الْمَرْجُوحِ، وَيَتَّضِحُ لَهُ، وَلِغَيْرِهِ الْمُشْكِلَاتُ، وَتَظْهَرُ الْفَوَائِدُ النَّفِيسَاتُ، وَيَتَدَرَّبُ النَّاظِرُ فِيهَا بِالسُّؤَالِ، وَالْجَوَابِ، وَيَتَفَتَّحُ ذِهْنُهُ، وَيَتَمَيَّزُ عِنْدَ ذَوِي الْبَصَائِرِ، وَالْأَلْبَابِ، وَيَعْرِفُ الْأَحَادِيثَ الصَّحِيحَةَ مِنْ الضَّعِيفَةِ، وَالدَّلَائِلَ الرَّاجِحَةَ مِنْ الْمَرْجُوحَةِ، ...
“Ketahuilah bahwa mengenal madzhab-madzhab salaf dengan dalil-dalilnya termasuk perkara yang dibutuhkan ... dan dengan menyebutkan madzhab-madzhab mereka dengan dalil-dalilnya, orang yang mapan akan mengetahui madzhab-madzhab itu sesuai dengan kedudukannya yang sesuai, mengetahui pendapat yang rojih (kuat) dari yang lemah, perkara-perkara yang rumit akan menjadi jelas bagi dia dan orang lain, akan nampak faedah-faedah berharga, dan orang yang memperhatikannya akan terlatih dengan soal jawab, akalnya akan terbuka, dan dia akan mempunyai keistimewaan di sisi orang-orang yang berakal. Dia juga akan mengetahui hadits-hadits yang shohih dari hadits yang dho’if, mengetahui dalil yang kuat dari yang lemah. ...”

6. Al-Imam Adz-Dzahaby rahimahullah (673 – 748 H) berkata dalam kitab beliau Siyar A’lam An-Nubala (13/380):
الامانة جزء من الدين، والضبط داخل في الحذق، فالذي يحتاج إليه الحافظ أن يكون تقيا ذكيا، نحويا لغويا، زكيا حييا، سلفيا، يكفيه أن يكتب بيده مئتي مجلد، ويحصل من الدواوين المعتبرة خمس مئة مجلد، وأن لا يفتر من طلب العلم إلى الممات، بنية خالصة وتواضع، وإلا فلا يتعن.
"Amanah merupakan bagian dari agama dan hafalan bisa masuk kepada kecerdikan. Adapun yang dibutuhkan oleh seorang hafizh adalah: Dia harus seorang yang bertaqwa, pintar, ahli nahwu dan bahasa, bersih hatinya, senantiasa bersemangat, seorang salafy (orang yang mengikuti madzhab salaf), cukup bagi dia menulis dengan tangannya sendiri 200 jilid buku hadits dan memiliki 500 jilid buku yang dijadikan pegangan dan tidak putus semangat dalam menuntut ilmu sampai dia meninggal dengan niat yang ikhlas dan dengan sikap rendah diri. Kalau tidak memenuhi syarat-syarat ini maka janganlah kamu berharap”.
Beliau menyebautkan bahwa diantara syarat untuk menjadi seorang al-hafidz, adalah dia seorang salafi, seorang yang mengikuti madzhab salaf.

7. Ibnu Hajar Al-'Asqolani Asy-Syafii rahimahullah (773-852 H) berkata dalam Fathul Bari:
ومما حدث أيضاً تدوين القول في أصول الديانات فتصدى لها المثبتة والنفاة، فبالغ الأول حتى شبه، وبالغ الثاني حتى عطل، واشتد إنكار السلف لذلك كأبي حنيفة، وأبي يوسف، والشافعي. وكلامهم في ذم أهل الكلام مشهور. وسببه أنهم تكلموا فيما سكت عنه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه.
وثبت عن مالك أنه لم يكن في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر شيء من الأهواء يعني بدع الخوارج، والروافض، والقدرية.
وقد توسع من تأخر عن القرون الثلاثة الفاضلة في غالب الأمور التي أنكرها أئمة التابعين وأتباعهم.ولم يقتنعوا بذلك حتى مزجوا مسائل الديانة بكلام اليونان، وجعلوا كلام الفلاسفة أصلاً يردون إليه ما خالفه من الآثار بالتأويل ولو مستكرهاً.
ثم لم يكتفوا بذلك حتى زعموا أن الذي تربوه هو أشرف العلوم وأولاها بالتحصيل، وأن من لم يستعمل ما أصطلحوا عليه فهو عامي جاهل، فالسعيد من تمسك بما كان عليه السلف، واجتنب ما أحدث الخلف "
“Dan termasuk yang terjadi juga adalah penyusunan buku tentang pendapat dalam masalah akidah, sampai kelompok yang menetapkan sifat Datang dan kelompok yang meniadakannya memasukinya. Yang pertama berlebihan sampai melakukan tasybih, yang kedua berlebihan sampai menolak sama sekali. Dan sangat keras pengingkaran salaf terhadap hal itu, seperti Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Asy-Syafii. Ucapan mereka dalam mencela ahlul kalam sangatlah terkenal. Sebabnya karena orang-orang itu berbicara tentang perkara yang didiamkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shohabatnya. Dan telah datang dari Imam Malik bahwa tidak ada pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, Umar sedikitpun dari al-hawa (bid’ah), yakni bid’ah-bid’ah khowaroj, syiah rofidhoh dan qodariyah.
Orang-orang yang datang setelah tiga generasi (awal) yang utama dalam keumuman perkara yang diingkari oleh para imam tabiin dan tabiut tabiin. Orang-orang itu tidak merasa cukup dengan hal itu sampai mencapurkan antara permasalahan-permasalahan agama dengan ucapan-ucapan yunan, dan menjadikan perkataan ahli filsafat sebagai dasar kembalinya atsar-atsar yang menyelisihinya dengan cara mentakwilnya, meskipun dengan enggan.
Kemudian orang-orang itu tidak merasa cukup dengan itu saja, sampai mereka meyakini bahwa yang mereka ajarkan adalah ilmu yang paling utama dan paling mulia untuk dipelajari dan menyangka bahwa orang yang tidak memakai istilah-istilah mereka adalah orang yang awam lagi bodoh.
Maka orang yang berbahagia adalah orang yang berpegang teguh dengan yang dipegang oleh salaf sholih dan menjauhi perkara yang diada-adakan kholaf (orang-orang belakangan).”

Cukuplah ucapan beliau sebagai pelajaran bagi orang yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

8. Imam As-Suyuthi rahimahullah (849-911) dalam Al-Amru Bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘An Al-Ibtida’ hal 8:
فكيف لو رأوا ما أحدثوا في هذا الزمان فيه من الزيادات القبيحة. فاحذره يا أخي، واقتد بالسلف الصالح.
“Maka bagaimana kalau mereka melihat terhadap apa yang diada-adakan oleh orang-orang pada masa ini, yang padanya ada tambahan-tambahan yang jelek. Maka berhati-hatilah saudaraku, dan teladanilah salaf sholih.”
Wallahu a'lam.

Posting Komentar